Aku dan Bahasa Italia (2)

Posted on November 22, 2008 by apnirwana.
Categories: Day to Day, Uncategorized.

Begitu memutuskan untuk belajar bahasa Italia, saya bingung bagaimana memulainya. Sekonyong-konyong saya menyadari bahwa bahasa ini sangat tidak mainstream di kalangan “penikmat bahasa”, dari sisi mana pun. Tidak ada institusi atau tempat kursus di Surabaya. Tidak banyak buku-buku tutorial belajar bahasa Italia beredar di toko-toko. Tidak ada seorang native speaker pun yang saya kenal di sekitar saya. Saya mulai yakin bahwa bahasa Italia cuma populer di kalangan pemusik dan rohaniwan Katolik saja, alias tidak banyak penuturnya, bahkan di seluruh dunia. Well, kalau saja Italia di masa lalu sama ekspansifnya dengan saudara serumpunnya, bangsa Spanyol dan Portugis, dalam menjajah Dunia Baru, tentu lebih gampang menemukan orang yang bisa berbahasa Italia. Hehehe…

Hampir-hampir saya berniat pindah ke bahasa asing yang lebih mainstream, yang lebih gampang dicari tempat belajarnya di Surabaya. Goethe Institut dan CCCL sudah terkenal cukup mumpuni dalam memberikan kursus bahasa Jerman dan Prancis. Banyak native speaker-nya pula. Saya juga diwarisi buku-buku Themen Neu dan beberapa majalah Der Spiegel oleh Denny, eks teman kos saya yang berangkat sekolah ke Jerman 7 tahun lalu, dan sekarang tidak ketahuan di mana rimbanya (Danke, Denny, di mana pun kau berada…). Untuk bahasa Prancis, saya kenal beberapa teman yang sudah lebih dulu kursus di CCCL.

Konsulat Belanda juga saya yakin punya kursus bahasa Belanda, dan saya bisa praktik berbahasa Belanda dengan beberapa kenalan yang keturunan Belanda. Saya toh sudah belajar sedikit kosakatanya dan punya Woordenboek der Engelsche en Nederlandsche Talen keluaran Campagne tahun 1914 di perpusakaan pribadi saya.

Bahasa-bahasa Asia seperti Mandarin dan Jepang (bahkan Korea) malah lebih menjamur lagi tempat kursus dan buku-bukunya. Apalagi peminatnya….

Tapi, akhirnya saya membuang keinginan untuk pindah ke lain hati, eh… ke lain bahasa, cuma gara-gara saya tidak menemukan kemudahan mempelajarinya. Setelah saya cek harga kursus di Goethe Institut (Jerman lebih menarik minat saya daripada Prancis, terus terang…), cuma satu kata yang muncul di benak saya, “Gendheng!!!” Gila, mahal banget… Saya tidak mungkin mengalokasikan bujet sebesar itu hanya untuk belajar bahasa. Akhirnya saya patah arang, tidak meneruskan pencarian ke pusat bahasa-pusat bahasa lainnya. Paling-paling setara Goethe juga rate­-nya…

Lagipula hati saya sudah terarah ke bahasa Italia. Dan hanya bahasa Italia. Jadi harus bahasa Italia. Toh, katanya banyak jalan menuju Roma. Ya, to? Ya ini saat pembuktiannya…

Pelan-pelan, setiap masalah berhasil menjumpai solusinya masing-masing.

Yosef, seorang teman yang saat itu sedang belajar di Karlsruhe, Jerman merekomendasikan kursus online di www.bbc.co.uk. “Mau belajar bahasa apa aja ada di situ,” begitu promosinya. Dia berlebihan, pasti. Yang jelas, tidak ada kursus bahasa Indonesia di sana. Hehehehe… Toh saya mendapati bahwa belajar bahasa Italia di situs itu benar-benar mengasyikkan. Step-step-nya sangat user friendly dan interaktif. Dari sanalah saya mengenal ungkapan-ungkapan bahasa Italia yang lazim dipakai sehari-hari, macam “Ciao!”, “Come stai?”, “Tutto bene.”, “Grazie.”, “Prego.”, “Va bene.”, “Per favore.” sampai “Che cavolo vuoi?!?!” Hihihi…. :P

Sampai di situ, bahasa Italia masih merupakan mainan baru yang mengasyikkan dan menantang buat saya. Menirukan kata-kata yang diucapkan Giovanna dan teman-teman sesama karakter di kursus BBC itu, atau merespon kata-kata mereka, seperti merapal mantra-mantra baru yang seolah bisa membawa saya semakin dekat ke negeri impian itu. Setiap kali muncul kata “Benissimo!” di layar monitor pertanda bahwa saya berhasil menjawab setiap pertanyaan yang mereka berikan, lonjakan perasaan senang saya serasa seperti seorang anak sekolah yang berhasil naik kelas dengan susah payahnya.

Sangat menyenangkan…

Sampai pada akhirnya saya menyadari bahwa Giovanna dan teman-temannya tidaklah riil. Mereka maya. Masa sampai seterusnya saya cuma ngobrol sama “mesin”? Kecemasan saya kembali muncul. Saya harus menemukan native speaker buat sparring partner saya ngomong Italia. Harus punya teman Italia yang riil. Yang bukan “mesin”. Yang ngobrolnya bisa bermacam-macam. Bukan cuma pesan kopi dan pasta di restoran atau beli tiket jalan-jalan seperti yang diajarkan Giovanna. O, ow… another Mission: Impossible…

Tapi memang selalu ada jalan menuju Roma….

Dari Indah, seorang teman yang saat itu sedang ada research project di Denpasar, saya mendapatkan alamat email seorang Italiano yang tinggal di Sanur, Bali. Egidio, Italiano ini, adalah salah satu responden project­-nya Indah. Bukannya senang, saya malah ketakutan. Lusinan pertanyaan muncul seperti panjangnya daftar belanjaan bulanan ibu saya. Siap nggak ya, bahasa Italia yang sudah saya pelajari untuk dipraktikkan? Mau nggak ya, dia mengajari saya belajar bahasanya? Orangnya baik nggak ya? Bagaimana ya kalau ternyata dia nggak merespons? Masa sih, orang Italia arogan-arogan, seperti kata mereka? Bukannya seharusnya mereka sangat ramah seperti bahasanya? Ah, jangan-jangan cuma sifat inferioritas bangsa kita saja yang kelewat besar sampai-sampai semua orang asing dibilang arogan, ya….

Duh, pusingnya sudah kayak mau nembak cewek saja….

Butuh sekitar 2 bulan sejak saya mendapatkan alamat email itu, sampai saat saya memberanikan diri mengetik email perkenalan. Dalam email itu, kata-kata bahasa Italia saya hanya buongiorno dan grazie mille. Selebihnya bahasa Inggris.

Butuh sekitar 10 menit sejak saya selesai mengetik email sampai akhirnya saya memberanikan diri mengklik ikon Send di Horde saya. Que sera, sera… oh, keliru… che sarà, sarà… pikir saya, mengakhiri keragu-raguan saya. Nothing to lose, lah…

Pesan dikirim…

(Bersambung)

Aku dan Bahasa Italia (1)

Posted on November 15, 2008 by apnirwana.
Categories: Day to Day.

Kenapa bahasa Italia? Kenapa bukan yang lain? Jerman? Prancis? Mandarin?

Lebih setahun lalu, setelah perbincangan yang begitu dalam tentang visi dan misi hidup, seorang teman lama yang baru datang dari negeri antah berantah memberi saya sebuah wake-up call. “Kamu lakukan sesuatu yang kamu sukalah…. Biar hidupmu gak boring. Belajar bahasa, misalnya. Dari dulu aku tahu, you’ve got talents in languages,” begitu katanya. Mungkin dia teringat masa lalu kami ketika dia sering minta tolong saya menerjemahkan materi-materi kuliahnya. Hehehe…

Saat itu juga langsung saya putuskan, bahasa Italia!

Balik lagi, kenapa Italia?

Pertama, saya suka lagu-lagu Italia. Con Te Partirò-nya Bocelli adalah cinta pertama saya pada bahasa itu. (Heran, bagaimana bisa lagu itu dibahasainggriskan menjadi Time To Say Goodbye, padahal artinya adalah Bersamamu Ku Kan Pergi). Bahasa Italia indah untuk dinyanyikan.

Kedua, soal image. Kalau bahasa Inggris dan Prancis terkesan sangat aristokrat, bahasa Jerman amat sangat arogan, maka bahasa Italia buat saya terkesan sangat familiar. Sangat akrab dan hangat.

Ketiga, soal usia. Kapasitas otak manusia di atas 30 tahun seperti saya ini pastilah sangat terbatas untuk belajar bahasa yang benar-benar baru. Saya pernah membaca di sebuah majalah, bahwa kemampuan bahasa seseorang tidak akan optimal jika bahasa itu baru mulai dipelajari setelah usia 10 tahun. Hey, I’ve wasted my 20 years!

Bayangkan kalau saya harus mulai belajar bahasa Mandarin atau Hindi, belum lagi ditambah dengan belajar menulis aksaranya. Jadi, saya harus belajar bahasa yang sudah cukup familiar kosakatanya. Bahasa apa lagi, kalau bukan bahasa yang berakar dari bahasa Latin? Setidak-tidaknya saya hafal teks Pater Noster dan Ordinarium dan tahu artinya. Dan gini-gini, saya pernah belajar Declinatio dari textbook-nya saudara saya yang sekolah di SMA Seminari.

Dan bukankah lebih gampang mengasosiasikan bulan dengan luna daripada Maan, dan matahari dengan sole daripada Zon? Yang pertama adalah bahasa Italia, dan yang kedua adalah bahasa Belanda. Lalu, kenapa bahasa Italia, dan bukan bahasa Latin-rooted lainnya seperti Portugis, Spanyol, atau Prancis? Alasannya kembali ke alasan pertama. Kosakata bahasa Italia saya cukup berkembang dari lagu-lagu mereka.

So, apakah segampang itu belajar bahasa Italia?

Sama sekali tidak, ternyata…

To be continued…

Discontinuity of “2008/07/05-06 Jogjakarta (Part 01)”

Posted on by apnirwana.
Categories: Travel.

Due to the endless activities (and lazyness), I’m afraid that I have to discontinue the post “2008/07/05-06 Jogjakarta (Part 01)“. The inspiration is already gone… Hehehe….

If you want to know the rest of the story (well, I hope you don’t, because I already forgot most part of it!), you can contact me personally by any way you like.

Sorry for this inconvenience. Thanks for your patience.
:)

33 - And What Would I Want To Be?

Posted on August 11, 2008 by apnirwana.
Categories: Day to Day.

What would you think if you were one year closer to your dead-line? The literal dead-line, I mean…

So here’s what I thought. It’s just like an alarm that wakes you up in the morning while you still want to sleep. A punch in your head while you still want to continue dreaming….

Thirty-three, and I’m still half-way to figure out what I want to be, what I really want to be. Not just doing everyday’s life, but living in it. Wow, that’s huge!

Thirty-three, and what have I done for this past one year? It would be embarrassing to realize that you haven’t gotten anywhere since your last birthday. Well, not me… I DID make progress in my life. Not a bunch of quantum leaps, but, yes, I call them progresses.

Following my heart, and encourage by a long-lost friend, I started to learn Italian. "You should learn a foreign language. Haven’t you realized that you’ve got talent in languages?" that’s what he said. Italian is a very tough choice, though. Not many speakers, even in the world. No formal course or institute in Surabaya. No native speakers I knew. But, I was very confident about doing this. This was one thing I started doing because I enjoyed it, not because I had to do it. And with a beginner’s luck I found my highway to learn this so beautiful-yet-difficult language, not so long after I’d decided to move on. I got connected to an Italiano (my friend introduced me to him) who had been living in Sanur, Bali for 13 years, and he spoke Bahasa as if he had been living here since he was born. My first Italian teacher… no, my first Italian sparring partner. I learned it by myself and practiced it with others. And to continue my beginner’s luck (well, not so beginner, I guess. A quasi-intermediate would be better…), since then, I keep in touch with a bunch of Italian friends, all very nice guys and girl (only one girl, can you imagine?!), to keep my Italian alive.

Another progress: Hey, I started a blog! It’s been so long since I wanted to wake up the writer in me. I felt down and disgraceful when I read my journals (that’s what I called them, my notes about everything) I’d written when I was in high school. "Gosh, how could those words ever come across my mind! I can never do the same now!" I thought. Well, some earthly stuffs had separated me from my serenity, my idealisms, my thoughtful thoughts… Hehehe…. well, this blog is like a medium to prove that I still have passion in writings. But, of course, one step at a time….

And one important progress: I started to read (again)! According to a friend’s terminology, I’m evolving from the toilet stage. Yes, the only time I’d spent my time to read was when I went to toilet every morning. And those were just newspaper of the bad news and some pop magazines (FHM was one of my favorites). And look at what I’ve done in this past one month! I’ve finished Coelho’s "The Alchemist" and Trinity’s "The Naked Traveler". I read Konner’s "The Atheist’s Bible". I’m reading Marina Silvia’s "Keliling Eropa 6 Bulan…" and Pausch’s "The Last Lecture". Well, yes, I guess I’m evolving…

Ok, not a very bad year, after all…. But still no clear answer about the big question about what I want to be. But one important thing, I’m moving forward. i don’t get stuck.

So, what now? Well, I have to set my goal as high as I can. I want to live a balanced life. Work and play. Eat and work-out. Read and write. Yin and yang. Spooring and balancing. Hahahaha….

A better job. Better vacations. Better relationships with others. And what else…

Love life? Ah, I’d rather think myself as Santiago, the guy in "The Alchemist". In my pathway to chase my destiny, I would find my own Fatima. That’s for sure. Besides, it’s a lifetime journey, it will never end until you die. So why would I worry about such thing?

Ok, that’s all. I got to move on. Hopefully next year, the title would be "34 - I’ve Finally Found Out What I’m Living For"….

2008/07/18 - Count of Monte Cristo

Posted on July 17, 2008 by apnirwana.
Categories: Day to Day.

Edmond Dantes: I don’t believe in God.

Abbe Faria: It doesn’t matter. He believes in you.

“Count of Monte Cristo” (2002).

A good movie. I wish I could read the original novel by Alexandre Dumas. Someday…

2008/07/17 - …

Posted on by apnirwana.
Categories: Day to Day.

Empty.
Uninspired.
Dead within.

Then, there’s Sunshine.

Thanks, Sunshine… for bringing me back to life.

2008/07/05-06 Jogjakarta (Part 01)

Posted on July 13, 2008 by apnirwana.
Categories: Travel.

Peak of The Peak Season

Undangan – Ai & Ririn – Sabtu, 05 Juli 2008

Jogja!

Sekira sebulan sebelumnya Ririn sudah menjanjikan akan mengirimkan undangan pernikahan mereka, tapi menerima undangan itu dengan tanganku sendiri tetap membuat pikiranku meloncat ke awang-awang. Jogja! Belum-belum, sudah terbayang atmosfer Jogja yang unik dan bersahabat, yang tidak bisa dijumpai di kotalain… Limabelas tahun lalu aku merasakannya. Sekarang, aku harus merasakannya kembali…

Pernikahan Ririn-Ai adalah satu alasan. Alasan yang lain, adalah untuk bernostalgia dengan Jogjakarta.

1993 – lima belas tahun silam – dengan dua orang teman, aku melewatkan sebuah malam yang tak pernah mati di Malioboro sekedar untuk hunting barang-barang “rongsokan“ yang kami anggap unik (waktu itu), menelusuri gang-gang kecil di sekeliling Keraton mencari tempat makan yang paling bersahaja (baca: paling murah) yang pas dengan kantong pas-pasan anak sekolah macam kami, dan bermalam di kakilima depan Benteng Vredeburg, beralas koran, beratap langit (ups, sudah mulai kayak lagu dangdut saja deskripsinya…), berbantal backpack, dan beralarm suara sapu lidi yang beradu dengan sampah jalanan, sisa-sisa keriuhan semalam suntuk di sepanjang Malioboro–Ahmad Yani.

2008 – lima belas tahun kemudian – melewatkan malam di Jogja dengan cara yang sama? Jelas sudah bukan kelasnya lagi. Kalau Trinity bilang, dalam The Naked Traveler, itu faktor U. Faktor usia. Kalau aku bilang, itu faktor A, akal sehat. Jelas melawan akal sehat, tidur di trotoar. Dingin. Tidak nyaman. Rawan tindak kejahatan. Wow, kenapa dulu tidak pernah terbayang kekuatiran semacam itu, ya… Benar kata seorang teman tentang kegilaan masa muda, “Once it sounded so manly. Now it sounds so silly!”

Lagian ada faktor U yang lain. Uang. Kita punya duit, sekarang. Kenapa bersusah payah untuk bersusah payah?

Maka, aku langsung kontak teman-teman yang menurutku tahu Jogja. Tentang akomodasi. Tentang transportasi. Beberapa teman memberi rekomendasi hotel-hotel murah di sekitar Malioboro. Aku pun berterima kasih kepada akses internet superlambat Telkomsel Flash, yang membantuku menemukan (tentu saja dengan amat sangat superlambat) website atau link hotel-hotel, dari yang berbintang-bintang sampai kelas backpacker di Jogjakarta. Indah, seorang teman di Jakarta yang tahu Jogja, mewanti-wanti, “Ati-ati Mas, ini peak season, waktunya libur sekolah.” Ah, it can’t be that bad, pikirku. Wong liburan sekolah sebulan penuh kok, masa semuanya mau berlibur pada weekend yang sama. È impossibile…

Ternyata yang impossibile tadi benar-benar terjadi. Semua hotel full-booked! Setiap kali telepon, aku selalu mendapatkan jawaban yang sama, “Nuwun sewu Mas, sudah tidak ada kamar kosong untuk weekend ini.” Ada juga yang berani-beraninya kasih alternatif, “Kalau mau, check-in hari Minggu siang aja, Mas.” Minggu siang? Minggu siang gundhul panjenengan…, umpatku, putus asa.

Semua tiket kereta ke dan dari Jogja semua kelas juga habis! Kelas ekonomi, tentunya nggak pernah habis. Tapi siapa mau naik kereta kelas ekonomi? Faktor U, gitu loh… Uang. Punya duit kok naik ekonomi. Gagal menembus bagian reservasi tiket di stasiun, aku sempat hunting ke agen-agen perjalanan. Nihil  juga. Paling banter, ada yang menawarkan 6 tiket Bima untuk hari Sabtu malam.
Lagi-lagi umpatku, Sabtu malam gundhul panjenengan…

Tapi Dewa Travelling kayaknya masih berpihak padaku. Indah (yang lain), seorang teman yang menyatakan ingin pergi ke Jogja bareng, segera mengerahkan sisikmelik-nya yang bejibun di Jogja untuk mencarikan hotel buat kami. Pertama-tama, report-nya memang tidak terlalu melegakan, “Bahkan president suites pun abis!” Namun setelah seharian door-to-door ke belasan hotel di sekitar Malioboro, kami berhasil di-booking-kan sebuah kamar deluxe dengan twin bed, satu-satunya yang masih tersisa, di Hotel Mataram. Harganya agak over-budget, sebenarnya. Harga peak season, kata resepsionis hotelnya. Halah, lama-lama muak juga dengar kata peak season… Tapi, mau bagaimana lagi…

Soal transportasi, akhirnya kami sepakat untuk naik bus malam. Itu pilihan terakhir untuk transportasi yang masuk kategori nyaman.

Well, masalah peak of the peak season sudah teratasi. Nampaknya…

(Bersambung)

July 4, 2008 - Jogjakarta… eccomi!

Posted on July 3, 2008 by apnirwana.
Categories: Day to Day.

I don’t know how to start it. But I think I got to do it. So this is my first post….

I’m not going to say too much, it’s already 6:40am, and my sister would probably kill me if I were late to pick her up again (4 times this week!)… so I have to rush to the bathroom in a few seconds.

Well, my mind is full of Jogjakarta now, I’ll be leaving Surabaya this evening with a friend for a friend’s wedding. The wedding is one reason, but the other reason is for the memories… of 15 years ago, the last time I was in Jogja. I wonder if everything is still the same. The uniqueness, the friendliness, the Malioboro sleepless nights… can I re-experience those beautiful things again, after 15 years…

So, Jogjakarta, eccomi! Here I come!