Aku dan Bahasa Italia (2)
Begitu memutuskan untuk belajar bahasa Italia, saya bingung bagaimana memulainya. Sekonyong-konyong saya menyadari bahwa bahasa ini sangat tidak mainstream di kalangan “penikmat bahasa”, dari sisi mana pun. Tidak ada institusi atau tempat kursus di Surabaya. Tidak banyak buku-buku tutorial belajar bahasa Italia beredar di toko-toko. Tidak ada seorang native speaker pun yang saya kenal di sekitar saya. Saya mulai yakin bahwa bahasa Italia cuma populer di kalangan pemusik dan rohaniwan Katolik saja, alias tidak banyak penuturnya, bahkan di seluruh dunia. Well, kalau saja Italia di masa lalu sama ekspansifnya dengan saudara serumpunnya, bangsa Spanyol dan Portugis, dalam menjajah Dunia Baru, tentu lebih gampang menemukan orang yang bisa berbahasa Italia. Hehehe…
Hampir-hampir saya berniat pindah ke bahasa asing yang lebih mainstream, yang lebih gampang dicari tempat belajarnya di Surabaya. Goethe Institut dan CCCL sudah terkenal cukup mumpuni dalam memberikan kursus bahasa Jerman dan Prancis. Banyak native speaker-nya pula. Saya juga diwarisi buku-buku Themen Neu dan beberapa majalah Der Spiegel oleh Denny, eks teman kos saya yang berangkat sekolah ke Jerman 7 tahun lalu, dan sekarang tidak ketahuan di mana rimbanya (Danke, Denny, di mana pun kau berada…). Untuk bahasa Prancis, saya kenal beberapa teman yang sudah lebih dulu kursus di CCCL.
Konsulat Belanda juga saya yakin punya kursus bahasa Belanda, dan saya bisa praktik berbahasa Belanda dengan beberapa kenalan yang keturunan Belanda. Saya toh sudah belajar sedikit kosakatanya dan punya Woordenboek der Engelsche en Nederlandsche Talen keluaran Campagne tahun 1914 di perpusakaan pribadi saya.
Bahasa-bahasa Asia seperti Mandarin dan Jepang (bahkan Korea) malah lebih menjamur lagi tempat kursus dan buku-bukunya. Apalagi peminatnya….
Tapi, akhirnya saya membuang keinginan untuk pindah ke lain hati, eh… ke lain bahasa, cuma gara-gara saya tidak menemukan kemudahan mempelajarinya. Setelah saya cek harga kursus di Goethe Institut (Jerman lebih menarik minat saya daripada Prancis, terus terang…), cuma satu kata yang muncul di benak saya, “Gendheng!!!” Gila, mahal banget… Saya tidak mungkin mengalokasikan bujet sebesar itu hanya untuk belajar bahasa. Akhirnya saya patah arang, tidak meneruskan pencarian ke pusat bahasa-pusat bahasa lainnya. Paling-paling setara Goethe juga rate-nya…
Lagipula hati saya sudah terarah ke bahasa Italia. Dan hanya bahasa Italia. Jadi harus bahasa Italia. Toh, katanya banyak jalan menuju Roma. Ya, to? Ya ini saat pembuktiannya…
Pelan-pelan, setiap masalah berhasil menjumpai solusinya masing-masing.
Yosef, seorang teman yang saat itu sedang belajar di Karlsruhe, Jerman merekomendasikan kursus online di www.bbc.co.uk. “Mau belajar bahasa apa aja ada di situ,” begitu promosinya. Dia berlebihan, pasti. Yang jelas, tidak ada kursus bahasa Indonesia di sana. Hehehehe… Toh saya mendapati bahwa belajar bahasa Italia di situs itu benar-benar mengasyikkan. Step-step-nya sangat user friendly dan interaktif. Dari sanalah saya mengenal ungkapan-ungkapan bahasa Italia yang lazim dipakai sehari-hari, macam “Ciao!”, “Come stai?”, “Tutto bene.”, “Grazie.”, “Prego.”, “Va bene.”, “Per favore.” sampai “Che cavolo vuoi?!?!” Hihihi….
Sampai di situ, bahasa Italia masih merupakan mainan baru yang mengasyikkan dan menantang buat saya. Menirukan kata-kata yang diucapkan Giovanna dan teman-teman sesama karakter di kursus BBC itu, atau merespon kata-kata mereka, seperti merapal mantra-mantra baru yang seolah bisa membawa saya semakin dekat ke negeri impian itu. Setiap kali muncul kata “Benissimo!” di layar monitor pertanda bahwa saya berhasil menjawab setiap pertanyaan yang mereka berikan, lonjakan perasaan senang saya serasa seperti seorang anak sekolah yang berhasil naik kelas dengan susah payahnya.
Sangat menyenangkan…
Sampai pada akhirnya saya menyadari bahwa Giovanna dan teman-temannya tidaklah riil. Mereka maya. Masa sampai seterusnya saya cuma ngobrol sama “mesin”? Kecemasan saya kembali muncul. Saya harus menemukan native speaker buat sparring partner saya ngomong Italia. Harus punya teman Italia yang riil. Yang bukan “mesin”. Yang ngobrolnya bisa bermacam-macam. Bukan cuma pesan kopi dan pasta di restoran atau beli tiket jalan-jalan seperti yang diajarkan Giovanna. O, ow… another Mission: Impossible…
Tapi memang selalu ada jalan menuju Roma….
Dari Indah, seorang teman yang saat itu sedang ada research project di Denpasar, saya mendapatkan alamat email seorang Italiano yang tinggal di Sanur, Bali. Egidio, Italiano ini, adalah salah satu responden project-nya Indah. Bukannya senang, saya malah ketakutan. Lusinan pertanyaan muncul seperti panjangnya daftar belanjaan bulanan ibu saya. Siap nggak ya, bahasa Italia yang sudah saya pelajari untuk dipraktikkan? Mau nggak ya, dia mengajari saya belajar bahasanya? Orangnya baik nggak ya? Bagaimana ya kalau ternyata dia nggak merespons? Masa sih, orang Italia arogan-arogan, seperti kata mereka? Bukannya seharusnya mereka sangat ramah seperti bahasanya? Ah, jangan-jangan cuma sifat inferioritas bangsa kita saja yang kelewat besar sampai-sampai semua orang asing dibilang arogan, ya….
Duh, pusingnya sudah kayak mau nembak cewek saja….
Butuh sekitar 2 bulan sejak saya mendapatkan alamat email itu, sampai saat saya memberanikan diri mengetik email perkenalan. Dalam email itu, kata-kata bahasa Italia saya hanya buongiorno dan grazie mille. Selebihnya bahasa Inggris.
Butuh sekitar 10 menit sejak saya selesai mengetik email sampai akhirnya saya memberanikan diri mengklik ikon Send di Horde saya. Que sera, sera… oh, keliru… che sarà, sarà… pikir saya, mengakhiri keragu-raguan saya. Nothing to lose, lah…
Pesan dikirim…
(Bersambung)
