2008/07/18 - Count of Monte Cristo

Posted on July 17, 2008 by apnirwana.
Categories: Day to Day.

Edmond Dantes: I don’t believe in God.

Abbe Faria: It doesn’t matter. He believes in you.

“Count of Monte Cristo” (2002).

A good movie. I wish I could read the original novel by Alexandre Dumas. Someday…

2008/07/17 - …

Posted on by apnirwana.
Categories: Day to Day.

Empty.
Uninspired.
Dead within.

Then, there’s Sunshine.

Thanks, Sunshine… for bringing me back to life.

2008/07/05-06 Jogjakarta (Part 01)

Posted on July 13, 2008 by apnirwana.
Categories: Travel.

Peak of The Peak Season

Undangan – Ai & Ririn – Sabtu, 05 Juli 2008

Jogja!

Sekira sebulan sebelumnya Ririn sudah menjanjikan akan mengirimkan undangan pernikahan mereka, tapi menerima undangan itu dengan tanganku sendiri tetap membuat pikiranku meloncat ke awang-awang. Jogja! Belum-belum, sudah terbayang atmosfer Jogja yang unik dan bersahabat, yang tidak bisa dijumpai di kotalain… Limabelas tahun lalu aku merasakannya. Sekarang, aku harus merasakannya kembali…

Pernikahan Ririn-Ai adalah satu alasan. Alasan yang lain, adalah untuk bernostalgia dengan Jogjakarta.

1993 – lima belas tahun silam – dengan dua orang teman, aku melewatkan sebuah malam yang tak pernah mati di Malioboro sekedar untuk hunting barang-barang “rongsokan“ yang kami anggap unik (waktu itu), menelusuri gang-gang kecil di sekeliling Keraton mencari tempat makan yang paling bersahaja (baca: paling murah) yang pas dengan kantong pas-pasan anak sekolah macam kami, dan bermalam di kakilima depan Benteng Vredeburg, beralas koran, beratap langit (ups, sudah mulai kayak lagu dangdut saja deskripsinya…), berbantal backpack, dan beralarm suara sapu lidi yang beradu dengan sampah jalanan, sisa-sisa keriuhan semalam suntuk di sepanjang Malioboro–Ahmad Yani.

2008 – lima belas tahun kemudian – melewatkan malam di Jogja dengan cara yang sama? Jelas sudah bukan kelasnya lagi. Kalau Trinity bilang, dalam The Naked Traveler, itu faktor U. Faktor usia. Kalau aku bilang, itu faktor A, akal sehat. Jelas melawan akal sehat, tidur di trotoar. Dingin. Tidak nyaman. Rawan tindak kejahatan. Wow, kenapa dulu tidak pernah terbayang kekuatiran semacam itu, ya… Benar kata seorang teman tentang kegilaan masa muda, “Once it sounded so manly. Now it sounds so silly!”

Lagian ada faktor U yang lain. Uang. Kita punya duit, sekarang. Kenapa bersusah payah untuk bersusah payah?

Maka, aku langsung kontak teman-teman yang menurutku tahu Jogja. Tentang akomodasi. Tentang transportasi. Beberapa teman memberi rekomendasi hotel-hotel murah di sekitar Malioboro. Aku pun berterima kasih kepada akses internet superlambat Telkomsel Flash, yang membantuku menemukan (tentu saja dengan amat sangat superlambat) website atau link hotel-hotel, dari yang berbintang-bintang sampai kelas backpacker di Jogjakarta. Indah, seorang teman di Jakarta yang tahu Jogja, mewanti-wanti, “Ati-ati Mas, ini peak season, waktunya libur sekolah.” Ah, it can’t be that bad, pikirku. Wong liburan sekolah sebulan penuh kok, masa semuanya mau berlibur pada weekend yang sama. È impossibile…

Ternyata yang impossibile tadi benar-benar terjadi. Semua hotel full-booked! Setiap kali telepon, aku selalu mendapatkan jawaban yang sama, “Nuwun sewu Mas, sudah tidak ada kamar kosong untuk weekend ini.” Ada juga yang berani-beraninya kasih alternatif, “Kalau mau, check-in hari Minggu siang aja, Mas.” Minggu siang? Minggu siang gundhul panjenengan…, umpatku, putus asa.

Semua tiket kereta ke dan dari Jogja semua kelas juga habis! Kelas ekonomi, tentunya nggak pernah habis. Tapi siapa mau naik kereta kelas ekonomi? Faktor U, gitu loh… Uang. Punya duit kok naik ekonomi. Gagal menembus bagian reservasi tiket di stasiun, aku sempat hunting ke agen-agen perjalanan. Nihil  juga. Paling banter, ada yang menawarkan 6 tiket Bima untuk hari Sabtu malam.
Lagi-lagi umpatku, Sabtu malam gundhul panjenengan…

Tapi Dewa Travelling kayaknya masih berpihak padaku. Indah (yang lain), seorang teman yang menyatakan ingin pergi ke Jogja bareng, segera mengerahkan sisikmelik-nya yang bejibun di Jogja untuk mencarikan hotel buat kami. Pertama-tama, report-nya memang tidak terlalu melegakan, “Bahkan president suites pun abis!” Namun setelah seharian door-to-door ke belasan hotel di sekitar Malioboro, kami berhasil di-booking-kan sebuah kamar deluxe dengan twin bed, satu-satunya yang masih tersisa, di Hotel Mataram. Harganya agak over-budget, sebenarnya. Harga peak season, kata resepsionis hotelnya. Halah, lama-lama muak juga dengar kata peak season… Tapi, mau bagaimana lagi…

Soal transportasi, akhirnya kami sepakat untuk naik bus malam. Itu pilihan terakhir untuk transportasi yang masuk kategori nyaman.

Well, masalah peak of the peak season sudah teratasi. Nampaknya…

(Bersambung)

July 4, 2008 - Jogjakarta… eccomi!

Posted on July 3, 2008 by apnirwana.
Categories: Day to Day.

I don’t know how to start it. But I think I got to do it. So this is my first post….

I’m not going to say too much, it’s already 6:40am, and my sister would probably kill me if I were late to pick her up again (4 times this week!)… so I have to rush to the bathroom in a few seconds.

Well, my mind is full of Jogjakarta now, I’ll be leaving Surabaya this evening with a friend for a friend’s wedding. The wedding is one reason, but the other reason is for the memories… of 15 years ago, the last time I was in Jogja. I wonder if everything is still the same. The uniqueness, the friendliness, the Malioboro sleepless nights… can I re-experience those beautiful things again, after 15 years…

So, Jogjakarta, eccomi! Here I come!