Aku dan Bahasa Italia (1)

Posted on November 15, 2008 by apnirwana.
Categories: Day to Day.

Kenapa bahasa Italia? Kenapa bukan yang lain? Jerman? Prancis? Mandarin?

Lebih setahun lalu, setelah perbincangan yang begitu dalam tentang visi dan misi hidup, seorang teman lama yang baru datang dari negeri antah berantah memberi saya sebuah wake-up call. “Kamu lakukan sesuatu yang kamu sukalah…. Biar hidupmu gak boring. Belajar bahasa, misalnya. Dari dulu aku tahu, you’ve got talents in languages,” begitu katanya. Mungkin dia teringat masa lalu kami ketika dia sering minta tolong saya menerjemahkan materi-materi kuliahnya. Hehehe…

Saat itu juga langsung saya putuskan, bahasa Italia!

Balik lagi, kenapa Italia?

Pertama, saya suka lagu-lagu Italia. Con Te PartirĂ²-nya Bocelli adalah cinta pertama saya pada bahasa itu. (Heran, bagaimana bisa lagu itu dibahasainggriskan menjadi Time To Say Goodbye, padahal artinya adalah Bersamamu Ku Kan Pergi). Bahasa Italia indah untuk dinyanyikan.

Kedua, soal image. Kalau bahasa Inggris dan Prancis terkesan sangat aristokrat, bahasa Jerman amat sangat arogan, maka bahasa Italia buat saya terkesan sangat familiar. Sangat akrab dan hangat.

Ketiga, soal usia. Kapasitas otak manusia di atas 30 tahun seperti saya ini pastilah sangat terbatas untuk belajar bahasa yang benar-benar baru. Saya pernah membaca di sebuah majalah, bahwa kemampuan bahasa seseorang tidak akan optimal jika bahasa itu baru mulai dipelajari setelah usia 10 tahun. Hey, I’ve wasted my 20 years!

Bayangkan kalau saya harus mulai belajar bahasa Mandarin atau Hindi, belum lagi ditambah dengan belajar menulis aksaranya. Jadi, saya harus belajar bahasa yang sudah cukup familiar kosakatanya. Bahasa apa lagi, kalau bukan bahasa yang berakar dari bahasa Latin? Setidak-tidaknya saya hafal teks Pater Noster dan Ordinarium dan tahu artinya. Dan gini-gini, saya pernah belajar Declinatio dari textbook-nya saudara saya yang sekolah di SMA Seminari.

Dan bukankah lebih gampang mengasosiasikan bulan dengan luna daripada Maan, dan matahari dengan sole daripada Zon? Yang pertama adalah bahasa Italia, dan yang kedua adalah bahasa Belanda. Lalu, kenapa bahasa Italia, dan bukan bahasa Latin-rooted lainnya seperti Portugis, Spanyol, atau Prancis? Alasannya kembali ke alasan pertama. Kosakata bahasa Italia saya cukup berkembang dari lagu-lagu mereka.

So, apakah segampang itu belajar bahasa Italia?

Sama sekali tidak, ternyata…

To be continued…

no comments yet.



Leave a comment

Names and email addresses are required (email addresses aren't displayed), url's are optional.

Comments may contain the following xhtml tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>